Luka tak harus sengsara

 

(k.cerpen Nabila Aprilia Rizty 9C)

Baskara pagi itu menyapa dan Kirana timbul mengikuti nya, aku yang saat itu masih menangis tersedu-sedu di pojok kamar pun Terpaksa harus bergegas mandi agar tak telat berangkat sekolah, semalaman aku bermain handphone dan berakhir menangis meratapi hidupku.

Berjalan menuju ke kamar mandi dengan langkah cukup goyah, aku cukup lelah aku bahkan hampir tak tidur tadi malam, hanya membaca Wattpad dan mendengarkan lagu dan berakhir menangis.

“Nara, kalau mandi itu jangan lama-lama apa kamu ga takut telat ke sekolah!” Teriak ibu ku dari arah dapur, aku bahkan belum mencopot pakaian ku.

“Iya Bu, sebentar.” Ucap ku dengan suara pelan entah ibu mendengar nya atau tidak

Selesai mandi aku sarapan makanan seadanya yang di masak oleh ibu, ya keluarga ku tak semiskin itu namun setelah ayah selingkuh ibu ku jadi pemarah emosi nya bahkan tak pernah stabil, aku dulu berusaha memahami namun sekarang aku lelah aku mulai malas-malasan sejak saat itu dan candu pada handphone karena menurut ku hanya di dunia Maya aku merasa di hargai.

Aku berangkat sekolah menggunakan sepeda, aku mengayuh nya sambil mendengarkan musik. Sesampainya di sekolah aku langsung menuju bangku ku dan bermain handphone.

“Nara, jangan main handphone Mulu!”ucap kayra sahabatku

“ya gimana lagi, hanya ini pelampiasan ku.” Ucap ku pada kayra

“Baca buku saja kamu sudah ga pernah Nara, kamu boleh sedih tapi apa kamu akan terus-terusan candu pada handphone? Aku gapapa kalo kamu main nya masih dalam batas wajar namun kamu menggunakannya sampai lupa waktu.” Ucap kayra pada ku dengan nada menasehati

“iya, kamu jangan urusin urasan ku deh.” Aku berkata demikian karena aku malas mendengar ocehan kayra

Kelas dimulai setelah pak Syifa’ datang, kami belajar bahasa Inggris tapi aku bahkan hampir tak mendengarkan ucapan nya sampai akhirnya aku di tegur dan harus keluar kelas.

Bel istirahat berbunyi, aku tak lapar jadi aku memutuskan berjalan saja di sekitar sekolah namun entah dorongan darimana aku pergi ke perpustakaan aku mencium bau buku bahkan ketika aku masih di depan pintu nya, disana hanya ada kak Sasa dan jenggala teman kelas ku dia memang suka membaca buku sih.

“Pilih buku yang mana ya.” Ucap ku pada diriku sendiri

Aku sibuk memilih buku sampai akhirnya tangan ku menarik buku berjudul

“bahaya kecanduan gadget” kubuka halaman pertama buku itu, aku merasa tertampar akan kata-kata dalam buku itu, aku memutuskan duduk di samping Jenggala, aku cukup dekat dengan nya.

“Nara? Tumben nih kesini?” tanya Jenggala pada ku

“hehe pengen aja Jenggala.” Jawab ku dengan kekeh di sela-selanya

“yasudah, lanjut baca sana” ucap Jenggala pada ku

Aku membaca buku itu, aku sadar semakin aku beranjak dewasa aku mulai sadar akan kewajiban hidupku namun aku merasa aku menghindari kewajiban itu, aku hampir tak pernah belajar setelah masalah keluarga ku terjadi secara bertubi-tubi menghantam ku, hanya bermain handphone seharian lalu tidur makan dan sekolah begitu saja setiap harinya.

“kenapa nara?”Tanya Jenggala pada ku, mungkin dia melihat mata ku yang menahan tangis

“Tak apa Jenggala, aku hanya merasa aku terlalu jauh sedihnya, aku melupakan kewajiban ku sebagai seorang siswi aku terlena akan handphone yang ku anggap sebagai penyelamat ku.” Ucap ku pada Jenggala dengan nada sedih

Jenggala tersenyum sampai akhirnya ia berkata

“nara, handphone itu bisa jadi buruk dan baik tergantung pengguna nya, kamu tak perlu menyesal karena terlalu terlena akan nya, cukup berubah saja menjadi lebih baik kamu boleh kok main handphone tapi juga harus inget waktu, kapan waktu belajar, shalat, ngaji, oke? Ayo berubah kalo bukan kamu yang mulai merubah siapa lagi?” tutur Jenggala padaku

Aku keluar dari perpustakaan setelah mendengar nasihat Jenggala, hari ini guru-guru rapat dan kami pulang pagi jadi setelah aku keluar dari perpustakaan aku langsung beranjak untuk pulang.

Di sepanjang jalan sepeda ku gayuh sambil mendengarkan lagu Nadin Amizah-beranjak dewasa, kurasa Nadin selalu mengerti aku, aku mencoba memahami apa yang Terjadi pada hidup ku, aku mulai Sadar bahwa apa yang Tuhan beri itu yang memang terbaik untuk ku. Aku mencoba merubah diri ku hari itu, mencoba memahami alur kehidupan yang memang kadang tak bisa di pahami.

“Kita beranjak dewasa”

“jauh terburu seharusnya”

Alunan lagu itu terus ku dengarkan sepanjang perjalanan.

Seiring perjalanan waktu aku mulai berubah, sampai akhirnya aku ada di titik ini yaitu aku sudah tak kecanduan handphone sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu membaca buku di perpustakaan, mencoba memahami permasalahan keluarga sebagai seorang sulung aku harus jadi anak kuat kan.

Hari ini kelulusan ku dari SMP ku, aku mendapat nilai yang cukup baik aku belajar dengan keras mencoba melawan nafsu ku yang seakan terus menginginkan bermalas-malasan di atas kasur sambil main handphone.

Pada akhirnya aku bisa lepas dari kecanduan handphone dan bisa mengatur waktu dan juga berpikir lebih dewasa. Terimakasih aku! Terimakasih telah bersedia untuk berubah. Ini semua bukan untuk orang lain namun untuk diriku sendiri.

“mengingat bodohnya dunia”

“dan kita yang masih saja berusaha”

-Nadin Amizah, beranjak dewasa

Bahwa kesedihan itu tak harus selalu di ratapi, kadang kala kita harus belajar tuk ikhlas akan segalanya.

 

 

 

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait

Program Literasi Sekolah

Membaca Nadhom asmaul husnah sebelum KBM Madrasatul Quran 30 menit sebelum KBM Menulis buku untuk guru dan siswa Perpustakaan keliling, Perpustakaan digital Membuat mading madrasah Membuat majalah madrasah Membuat pojok baca Perpustakaan di kelas Mengikuti program Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB) 2022

Baca selengkapnya...

Prestasi Literasi Sekolah

1. Menerbitkan buku karya siswa 2. Menerbitkan buku karya guru 3. Menerbitkan majalah madrasah 4. Juara lomba membaca Puisi 5. JUARA 1 LOMBA VIDEO PROFIL MADRASAH Tk. MTs. Se kabupaten6. JUARA FAVORIT LOMBA VIDEO PROFIL MADRASAH Se kabupaten

Baca selengkapnya...